PAGARALAM – Mengakhiri rangkaian kunjungan kerjanya di Kota Pagar Alam, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Selatan, Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, mengunjungi SMA Taruna Nusantara Kampus Pagar Alam di Jalan Bandara Atung Bungsu, Kelurahan Atung Bungsu, Kecamatan Dempo Selatan, Kamis (30/7/2026).
Kedatangan Kapolda didampingi Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah dan Kapolres Pagar Alam AKBP Adam Purbantoro, serta disambut langsung oleh Kepala SMA Taruna Nusantara Kampus Pagar Alam, Brigjen TNI Mochammad Ghoffar Ngismangil.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Sumsel memberikan kuliah umum sekaligus motivasi kepada 238 siswa SMA Taruna Nusantara Kampus Pagar Alam. Suasana berlangsung interaktif dengan adanya sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada para taruna dan taruni untuk berdialog langsung dengan Kapolda.
Dalam arahannya, Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho mengaku bangga atas berdirinya SMA Taruna Nusantara Kampus Pagar Alam yang menjadi satu-satunya kampus SMA Taruna Nusantara di Pulau Sumatera. Ia menjelaskan, sebelumnya SMA Taruna Nusantara hanya berpusat di Magelang, Jawa Tengah, namun pada era Presiden Prabowo Subianto kini telah dibangun lima kampus baru, yakni di Pagar Alam, Cimahi, Malang, Langowan, dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kapolda berharap kehadiran SMA Taruna Nusantara di Kota Pagar Alam mampu mencetak generasi muda yang unggul, berkarakter, serta berprestasi, baik di bidang militer maupun akademik, sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Semoga dari kampus ini lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu membawa bangsa Indonesia semakin maju dan berdaya saing,” harap Kapolda.
Usai menyampaikan kuliah umum, Kapolda Sumsel bersama Ketua Bhayangkari Daerah Sumsel Eka Sandi Nugroho, didampingi Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah serta Ketua TP PKK Kota Pagar Alam Hj. Hera Parianti Ludi, melakukan penanaman pohon di lingkungan SMA Taruna Nusantara Kampus Pagar Alam.
Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus menanamkan nilai kepedulian terhadap alam kepada para siswa, sejalan dengan semangat membangun generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan peduli terhadap masa depan bangsa. (Tom)
Kategori: Peristiwa
-

Kapolda Sumsel Beri Kuliah Umum di SMA Taruna Nusantara Pagar Alam, Tanamkan Semangat Generasi Emas 2045
-

Hampir Tak Layak Guna, Jembatan Desa Suro Musi Rawas nyaris memakan Korban
Musi Rawas, seputartv.com – Kondisi Jembatan Gantung yang berada di Dusun III, Desa Suro, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, kini menjadi sorotan masyarakat. Jembatan yang selama ini menjadi akses utama warga menuju area perkebunan tersebut dinilai sudah tidak layak digunakan karena mengalami kerusakan yang cukup parah.
Pantauan di lapangan menunjukkan lantai jembatan banyak yang rusak dan sebagian telah diganti menggunakan kayu secara swadaya oleh masyarakat agar tetap dapat dilalui. Selain itu, besi penahan dan pagar pengaman di beberapa bagian juga telah hilang maupun mengalami kerusakan, sehingga kondisi jembatan terlihat miring dan membahayakan keselamatan pengguna.
Masyarakat berharap pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Musi Rawas segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki jembatan tersebut sebelum menimbulkan korban jiwa.
“Kami sangat khawatir, terutama terhadap anak-anak yang sering bermain di sekitar jembatan. Dengan kondisi seperti sekarang, bukan tidak mungkin sewaktu-waktu bisa terjadi kecelakaan yang memakan korban,” ungkap seorang warga.
Selain persoalan jembatan gantung, warga juga mengeluhkan kondisi Jalan Lingkar Desa Suro yang hingga kini masih rusak berat dan belum mendapatkan perbaikan. Hal tersebut disampaikan Us (36) saat ditemui awak media pada Selasa (29/07/2026).
“Jalan lingkar desa sudah sangat hancur, tetapi sampai sekarang belum juga diperbaiki. Padahal akses jalan ini sangat penting bagi aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Menurut Us, masih banyak pekerjaan rumah yang harus menjadi perhatian pemerintah, baik pemerintah desa maupun pemerintah daerah. Selain jembatan dan jalan, saluran drainase di beberapa titik juga mengalami kerusakan sehingga dinilai menghambat perkembangan pembangunan desa.
Ia juga menyoroti peran para wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I Kabupaten Musi Rawas yang berjumlah tujuh orang, termasuk salah satunya berasal dari Desa Suro. Namun hingga kini, masyarakat merasa belum melihat adanya langkah konkret dalam menyelesaikan persoalan infrastruktur yang menjadi kebutuhan utama warga.
“Jangan sampai amanah yang diberikan masyarakat hanya menjadi slogan. Yang kami butuhkan adalah tindakan nyata, bukan sekadar janji. Apalagi beberapa tahun lagi akan kembali memasuki pesta demokrasi. Harapan masyarakat sederhana, buktikan dengan kerja nyata, bukan janji yang kembali menjadi janji,” tutup Us.
Masyarakat Desa Suro berharap pemerintah segera melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi Jembatan Gantung Dusun III, Jalan Lingkar Desa Suro, serta infrastruktur lainnya agar aktivitas warga dapat berjalan dengan aman, nyaman, dan mendukung peningkatan perekonomian masyarakat.(Red) -

Dugaan Perselisihan Rumah Tangga Pemicu Kebakaran 10 Rumah di Lubuklinggau, Satu Petugas Damkar Luka
LUBUK LINGGAU, – Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat penduduk di RT 04, Kelurahan Jawa Kanan SS, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 17.30 WIB. Sedikitnya 10 unit rumah hangus dilalap si jago merah. Selain menyebabkan kerugian materi yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, peristiwa tersebut juga mengakibatkan seorang personel Dinas Pemadam Kebakaran mengalami luka saat bertugas memadamkan api.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, kebakaran diduga dipicu konflik rumah tangga yang telah berlangsung beberapa hari sebelumnya. Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian.
Ketua RT 04 Kelurahan Jawa Kanan SS, Ali Lukman, mengatakan pasangan suami istri yang menghuni rumah tempat pertama kali api muncul diketahui sempat terlibat perselisihan sekitar empat hari sebelum kejadian.
“Pada Jumat sore sekitar pukul 17.30 WIB, yang bersangkutan kembali datang ke rumah. Tidak lama kemudian terdengar keributan sebelum api muncul,” ujar Ali Lukman kepada awak media.
Sejumlah saksi menyebutkan adanya dugaan penggunaan bahan bakar jenis bensin sebelum kobaran api membesar. Namun, informasi tersebut masih didalami penyidik dan belum menjadi kesimpulan resmi penyebab kebakaran.
Dalam hitungan menit, api dengan cepat membesar dan merambat ke rumah-rumah di sekitarnya yang berdempetan. Warga bersama personel Dinas Pemadam Kebakaran berjibaku memadamkan kobaran api agar tidak meluas ke bangunan lain.
Setelah proses pemadaman berlangsung, api akhirnya berhasil dikendalikan. Sedikitnya 10 rumah mengalami kerusakan berat, sementara sejumlah keluarga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat maupun lokasi yang lebih aman.
Saat proses pemadaman berlangsung, seorang personel Dinas Pemadam Kebakaran mengalami luka saat menjalankan tugas dan langsung mendapatkan penanganan medis. Kondisinya dilaporkan dalam keadaan sadar.
Sementara itu, aparat Kepolisian Resor Lubuklinggau bergerak cepat mengamankan seorang pria yang diduga terkait dengan peristiwa kebakaran tersebut tidak lama setelah kejadian. Terduga pelaku kini telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan intensif, sementara penyidik melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan barang bukti, dan memeriksa sejumlah saksi guna mengungkap kronologi serta motif yang melatarbelakangi insiden tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, penyidikan masih berlangsung. Kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab kebakaran dan menunggu hasil penyelidikan resmi yang akan disampaikan setelah seluruh proses pemeriksaan selesai.(Red). -

Longsor di Belakang SD Negeri 11 Desa Genting Ancam Keselamatan Siswa, Warga Minta Penanganan Segera
LAHAT, seputartv.com – Kondisi longsor yang berada tepat di belakang SD Negeri 11 Desa Genting, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, menjadi perhatian serius para guru dan wali murid. Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Lahat melalui BPBD dan Dinas Pendidikan segera turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan penanganan.
Longsor tersebut diperkirakan memiliki kedalaman sekitar 50 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Hingga saat ini, di lokasi belum terdapat pagar atau pembatas pengaman yang dinilai sangat penting untuk melindungi keselamatan para siswa saat berada di lingkungan sekolah.
Para guru dan orang tua murid mengaku khawatir karena posisi longsor berada sangat dekat dengan area sekolah. Mereka menilai kondisi tersebut berpotensi membahayakan aktivitas belajar mengajar apabila tidak segera ditangani.
Menurut keterangan warga, persoalan ini telah disampaikan kepada pihak sekolah maupun Kepala Desa Genting. Masyarakat berharap laporan tersebut segera ditindaklanjuti dengan peninjauan langsung oleh Dinas Pendidikan dan BPBD Kabupaten Lahat agar dapat dilakukan pemasangan pagar pengaman serta langkah-langkah mitigasi bencana.
Warga berharap pemerintah daerah tidak menunggu hingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Penanganan cepat dinilai sangat penting demi menjamin keamanan dan keselamatan siswa, guru, serta seluruh warga sekolah SD Negeri 11 Desa Genting.
-

Diduga Tak Hafal Perkalian, Siswa Di Lubuk Linggau Diduga Jadi Korban Penganiayaan Oknum Guru PPPK
LUBUKLINGGAU, seputartv.com – Dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah kembali mencoreng dunia pendidikan. Seorang oknum guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berinisial RP, yang mengajar di SD Negeri 8 Lubuklinggau, diduga melakukan penganiayaan terhadap salah seorang siswanya hingga mengalami luka lebam.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan kekerasan tersebut dipicu lantaran korban tidak mampu menghafal materi perkalian yang diberikan saat kegiatan belajar mengajar. Alih alih memberikan pembinaan, oknum guru tersebut diduga memilih menggunakan kekerasan fisik sebagai bentuk hukuman.
Korban dilaporkan mengalami luka lebam pada bagian tangan dan kaki yang diduga akibat benturan benda tumpul atau pukulan saat insiden terjadi. Selain mengalami cedera fisik, korban juga disebut mengalami trauma psikologis pascakejadian.
Peristiwa ini menuai keprihatinan karena sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar dan berkembang, bukan menjadi ruang yang menimbulkan rasa takut akibat dugaan tindakan kekerasan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SD Negeri 8 Lubuklinggau, guru yang bersangkutan, maupun Dinas Pendidikan setempat belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan peristiwa tersebut. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi guna memenuhi asas keberimbangan dalam pemberitaan.
