Asal – Usul Kue Bika Ambon, Sampai Jadi Makanan Khas Medan


JAKARTA, seputartv.com – Bika ambon adalah kue populer yang dikenal sebagai makanan khas bukan dari Ambon tetapi dari Medan.

Bika Ambon berwarna cokelat keemasan, dengan tekstur yang kenyal namun lembut. Kue ini dibuat dari kombinasi tepung tapioka, santan, telur, gula, dan tuak. Fermentasi adonan dengan tuak menciptakan tekstur unik kue dengan penampilan seperti sarang lebah.

Meskipun Bika Ambon telah menjadi simbol ikonik dari kuliner Medan, asal-usulnya masih belum jelas. Beberapa legenda menunjukkan bahwa Bika Ambon dipengaruhi oleh tradisi kuliner Tionghoa atau Ambon, namun kue bika Ambon sudah terkenal setidaknya di awal abad ke-20.

Legenda mengatakan bahwa kue Bika Ambon dimulai berabad-abad yang lalu, ketika penjelajah Portugis mendarat di pantai Pulau Ambon di kepulauan Maluku pada tahun 1512. Bangsa Portugis membawa bersama mereka tradisi membuat kue. Di antara kuliner yang diperkenalkan di Asia adalah kue yang dibuat dari tepung beras yang disebut bika dan bingka.

Bika atau bibingka atau bebika dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan kelapa parut dan gula merah (gula jawa). Sementara Bingka terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan telur, santan, dan gula kelapa .

Versi kue bika masih dapat ditemukan di beberapa bagian Indonesia, seperti di Sumatera Barat. Variasi kue bika dapat ditemukan di Filipina (bibingka) atau di Goa, India (bibinca).

Seiring waktu, kue-kue ini mulai diperkenalkan ke kota kota, termasuk Batavia (sekarang Jakarta). Pada tahun 1890-an, versi khusus kue yang dikenal sebagai Bika atau Bebika Ambon telah mendapatkan pengakuan dan popularitas. Kue Bika Ambon ini dibuat dan dijual oleh pembuat kue Tionghoa.

Namun, sejarah awal Bika Ambon tidak tanpa intrik. Pada tahun 1896, insiden skandal terjadi ketika sebuah keluarga di Kwitang, Batavia jatuh sakit setelah mengonsumsi bika ambon yang dijual di depan pintu mereka oleh seorang wanita bernama Ki Kio Nio (De Locomotief 10–02–1896).


Bika Ambon di Medan muncul selama masa pendudukan Jepang pada tahun 1943 yang dijual oleh Restoran Tah Tau di Kesawan No 79.

Bika Ambon cukup terkenal di Jakarta dan pulau Jawa tahun 1950–1960. Bika Ambon adalah kue kesukaan presiden Sukarno, dan disajikan sebagain makanan khas Indonesia saat Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.

Tidak diketahui kapan Bika Ambon versi Medan muncul. Bika Ambon (versi Medan) menggabungkan telur dan gula ke dalam campuran tepung tapioka dan santan. Yang membedakannya, adalah penggunaan tuak, anggur palem lokal, sebagai agen pengembang, menggantikan ragi tradisional. Keunikan ini menghasilkan kue dengan struktur seperti sarang lebah dan tekstur yang tak tertandingi.

Semangat kewirausahaan dari pemilik bisnis Tionghoa Indonesia pada tahun 1980-an yang memicu popularitas Bika Ambon di Medan. Kue ini juga tidak terdapat di jalan Ambon, melainkan awalnya dijual oleh dapur home made. Namun tukang roti Tionghoa mulai menawarkan kue ini sebagai oleh oleh khas Medan. Keunikan kue ini menjadikannya warisan kuliner Medan.

Bika ambon merupakan oleh-oleh khas Medan yang tak boleh lupa untuk dibawa pulang. Selain rasanya yang enak, bika ambon merupakan kue yang cukup tahan lama.
Bika ambon dapat bertahan selama 3-4 hari meskipun bebas bahan pengawet. Kue ini memiliki tekstur yang lembut, sedikit kenyal dan sangat cocok untuk teh atau kopi pagi.

Komentar

Tinggalkan komentar